K-Pop

Soal The Big Three: Apakah YG Sudah Tersingkir dan Digantikan Big Hit?

0

Aegyo.id – Hari ini, Kamis (9/1) timeline medsos mimin mendadak ramai mengenai perdebatan Big Three K-Pop Agencies. Ada perdebatan sengit mengenai agensi mana yang layak mendapatkan status sebagai The Big Three.

Sejak tahun 2007 posisi Big Three Agencies di Korea memang memiliki komposisi yang paten. Mereka adalah tiga agensi terbesar di Korea saat itu yaitu, SM Entertainment, JYP Entertainment dan YG Entertainment.

Namun komposisi ini mulai disebut berubah sejak tahun 2019. Dilansir dari Koreaboo, YG sudah tidak masuk dalam hitungan dan posisinya digantikan oleh agensi yang tengah naik daun, Big Hit Entertainment.

Tak ayal artikel dari Koreaboo itu menjadi bahan perdebatan. Banyak yang tidak terima YG didepak dari status ‘The Big Three’ dengan alasan bahwa YG masih menjadi salah satu dari tiga agensi terbesar di Korea.

Lantas bagaimana sebenarnya konsep The Big Three ini? Apa indikator sebuah agensi bisa masuk dalam The Big Three ini? Berikut Newsroom Aegyo mencoba menjabarkan sejarah dan konsep The Big Three.

Tiga Terbaik

SNSD - Gee
Source: SM Entertainment

Seperti namanya, The Big Three ini mengacu kepada tiga agensi ‘terbesar’ di Korea Selatan. Tidak diketahui sejak kapan istilah ‘Big Three’ ini mulai populer di publik, namun dari beberapa artikel yang kami temukan istilah Big Three ini mulai dipopulerkan di sekitar tahun 2007-an.

Tiga agensi yaitu SM Entertainment, JYP Entertainment dan YG Entertainment disebut sebagai tiga agensi terbaik di Korea Selatan. Namun apa indikator mereka disebut sebagai yang terbaik?

Dari penelusuran kami ada setidaknya tiga kriteria mengapa sebuah agensi disebut menjadi yang terbaik. Yang pertama adalah bagaimana mereka atau lebih tepatnya artis mereka memberikan dampak kepada dunia K-Pop, lalu yang kedua bagaimana pendapatan mereka dalam setahun dan yang ketiga berapa nilai market capitalization mereka.

Persaingan Ketat

Baik SM Entertainment, JYP Entertainment dan YG Entertainment didaulat sebagai tiga terbaik karena ketiga agensi ini bersaing ketat sejak generasi kedua K-Pop.

Sebagai contoh, SM di generasi kedua memiliki unggulan pada SNSD dan Super Junior, sementara YG memiliki BIGBANG dan 2NE1, sementara JYP memiliki 2PM dan Wondergirls. Keenam idol group itu bisa dikatakan menjadi enam idol group terpopuler di eranya.

Namun jika ditarik lebih ke belakang, YG bisa dikatakan sebagai pendatang baru di Big Three. Di generasi pertama K-Pop, ada tiga agensi yang menjadi pelopor di era itu, yaitu SM Entertainment, JYP Entertainment dan DSP Entertainment.

Di generasi pertama, ketiga agensi ini merupakan pelopor dunia K-Pop. SM Entertainment pada saat itu berjaya dengan H.O.T dan BoA, sementara JYP mengandalkan g.o.d dan DSP pada saat itu populer dengan girl group legendaris Fin k.l dan Sechs Kies.

Namun dominasi DSP mulai meredup di periode 2008 dan pada saat itu YG Entertainment mulai meroket setelah mereka mendebutkan BIGBANG yang disusul 2NE1. Jadi bisa dikatakan ‘Big Three’ ini bukan gelar yang tidak tergantikan, karena mengikuti perkembangan jaman.

Big Hit Gantikan YG di Big Three?

Bang Si Hyuk dan BTS
Source Image: Big Hit Entertainment

Nah kembali ke perdebatan alot di lini masa tadi pagi. Pertanyaan besar saat ini apakah YG Entertainment masih dihitung sebagai Big Three? Dan Apakah Big Hit sudah layak disebut masuk Tiga besar agensi terbaik?

Jika mengacu pada tiga indikator yang mimin tulis sebelumnya, Big Hit sudah sangat layak untuk masuk ke Big Three. Dan apakah Big Hit menggantikan posisi YG di Big Three? Jawabannya adalah Iya. Mengapa demikian? Mari kita bedah satu per satu.

Indikator pertama adalah kontribusi dalam penyebaran K-Wave. Memang Big Hit ini terhitung agensi baru, dan sebelum tahun 2016 agensi ini masih dihitung sebagai agensi kecil. Namun jika melihat tiga tahun terakhir, suka tidak suka kita harus mengakui bahwa BTS sudah menjadi fenomena global. Salah satu indikator kesukesan mereka adalah keberhasilan mereka menembus pasar internasional yang sebelumnya sulit dicapai idol-idol lainnya.

Untuk indikator pertama tadi memang cukup subyektif, namun untuk indikator pemasukan dan market capitalization memang bisa dibandingkan secara kuantitatif.

Dikutip dari Forbes, paruh pertama 2019, Big Hit mencatatkan pemasukan sebesar 200,1 Milyar Won dengan keuntungan bersih sebesar 39,1 Milyar Won. Jumlah ini melampaui pemasukan YG yang hanya mencapai angka 142.7 Milyar Won dengan keuntungan bersih sebesar 2,3 Milyar Won.

Angka ini sebenarnya akan berubah jika laporan keuangan paruh kedua 2019 sudah dirilis. Namun jika melihat aktivitas comeback kedua Agensi yang cukup minim di paruh kedua, maka tidak akan ada perubahan yang masif untuk selisih kedua agensi ini.

Apakah YG Entertainment Bisa Kembali ke Big Three?

Jika mimin boleh membuat prediksi, YG sangat berpotensi untuk kembali mendepak Big Hit dari posisi di Big Three. Mengapa demikian?

Yang pertama karena Big Hit kemungkinan akan mengalami penurunan pendapatan setelah Jin BTS akan memulai wajib militer, sehingga keuntungan dari aktivitas promosi mereka kemungkinan akan menurun di tahun 2020.

Alasan kedua adalah YG memiliki dua kartu AS yang siap meledak di tahun 2020. Dua kartu AS itu adalah comeback BLACKPINK dan comeback BIGBANG setelah G-DRAGON dan Taeyang selesai wajib Militer. Kedua group ini dikenal sebagai mesin uang-nya YG sehingga jika comeback kedua group ini sukses maka pemasukan YG di tahun 2020 akan meroket.

Namun Big Hit sendiri punya ‘senjata rahasia’ di tahun 2020 ini. Mereka mengakuisisi Source Music tahun lalu, dan GFRIEND dan TXT bisa menjadi sumber pemasukan baru mereka di tahun 2020. Jadi mimin memprediksi persaingan posisi tiga besar di tahun 2020 antara YG dan Big Hit akan berlangsung sengit.

You may also like

More in K-Pop

Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *